I-Cane : Inovasi Yang Berawal Dari Niat Mulia
Labels:
Belanda,
I-Cane,
Inovasi,
Neso Indonesia,
Pioneer
✪
No comment yet
Kemajuan teknologi dan inovasi yang tiada henti di Belanda, ternyata
tidak mengurangi jiwa sosial dan rasa kepedulian masyarakatnya terhadap sesama,
terutama kepada kaum difabel, yaitu mereka yang memiliki keterbatasan dalam hal
fisik ataupun mental.
![]() |
Monique de Wilt |
I-Cane.
Interactive Cane atau I-Cane
sendiri difokuskan untuk mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh anjing
penuntun tuna netra. Anjing penuntun memiliki kemampuan dalam membantu tuna
netra menghindari halangan yang ada di jalan, namun tidak mampu untuk mengenali
nama lokasi maupun rute yang dilaluinya. Hal ini menarik seorang social entrepreneur, Huub Grooten untuk membantu de Wilt
merealisasikan dan mengembangkan I-Cane.
![]() |
Anjing Penuntun Memiliki Keterbatasan |
Penerapkan
teknologi tactile arrow pada I-Cane menjadi awal kerjasama mereka
berdua. Hal ini juga menandai didirikannya lembaga non-profit , I-Cane Foundation di bawah inisiasi Huub
Grooten sendiri yang kemudian menjadi I-Cane Social
Technology BV pada
2008 untuk
membantu pengembangan, distribusi serta pemasaran I-Cane secara lebih terencana.
Tactile arrow sendiri adalah tombol bergerak yang diposisikan pada pegangan
tongkat dimana ibu jari berada. Sistem ini memungkinkan untuk memberi petunjuk arah
jalan kepada penggunanya untuk menghindari halangan di depan melalui perputaran
secara otomatis dari tactile arrow. Teknologi mengandalkan kepekaan indera perasa
pada ibu jari penggunanya.
![]() |
Simulasi Penggunaan I-Cane |
Tactile arrow juga terintegrasi dengan inertial sensor (sensor dengan kemampuan pendeteksi gerak) yang berada di bagian depan tongkat yang berfungsi mendeteksi halangan yang ada.
Untuk
navigasinya, I-Cane dilengkapi
dengan sistem Galileo yang jauh lebih
akurat daripada menggunakan Global
Positioning System(GPS). Ini berguna bagi kaum tuna netra untuk mengetahui posisi mereka secara tepat, seperti
di toko apa dia sedang berada atau sedang berada di rumah nomor berapa posisinya
saat itu. Semua informasi dari sistem tersebut akan berupa audio atau suara yang dapat ditransmisikan pada earphone yang digunakan oleh penggunanya.
Proyek
I-Cane pun mendapat perhatian yang
luar biasa dari berbagai institusi penelitian dan perusahaan, baik pemerintah
maupun swasta di Belanda. Dana pengembangan
yang mencapai EUR 1.385.600 pun sempat menjadi
kendala. Tapi manfaat I-Cane yang amat
besar bagi kaum tuna netra di seluruh dunia, nampaknya sukses mengajak banyak
pihak ikut serta dalam membiayai serta memberikan bimbingan teknikal untuk pengembangannya.
Bahkan pada 2012, I-Cane menjadi
salah satu finalis dalam RegioStar Award,
sebuah penghargaan bagi karya inovatif di daratan eropa.
![]() |
Instansi-Instansi Yang Memberi Bimbingan Teknis Pada Proyek I-Cane |
I-Cane telah menjadi sebuah bukti nyata komitmen
pemerintah dan masyarakat Belanda dalam menjunjung nilai-nilai Hak Asasi
Manusia, terutama kepada kaum difabel. Penghapusan diskriminasi terhadap kaum
difabel pun terus dilakukan tidak hanya melalui retorika semata, tetapi juga
melalui pembangunan fasilitas serta inovasi
teknologi untuk mempermudah aktivitas mereka. Hal ini tentu membuat kita
berkaca diri dan bertanya, apakah Indonesia saat ini sudah mampu memenuhi
hak-hak para kaum difabel yang ada?
Referensi
http://www.i-cane.org/en/191
http://home.tudelft.nl/index.php?id=10912&L=1
http://ec.europa.eu/regional_policy/projects/practices/details.cfm?pay=NL&the=85&sto=2452®ion=ALL&lan=7&obj=ALL&per=ALL&defL=EN
Post a Comment